Postingan Populer

Sabtu, 01 Oktober 2016

Tipologi Penguasaan Lahan di Papua



BAB VI
PENYELESAIAN SENGKETA HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM ADAT DAN ATAU HAK PERORANGAN WARGA MASYARAKAT HUKUM ADAT ATAS TANAH
Pasal 14
(1)    Sengketa yang terjadi antara masyarakat hukum adat atau perorangan warga masyarakat
hukum adat yang tunduk pada hukum adat yang sama dapat diselesaikan menurut hukum
adat setempat.
(2)    Jika masing-masing pihak yang bersengketa tunduk pada hukum adat yang berlainan dan
memilih hukum adat sebagai mekanisme penyelesaian sengketa, maka penyelesaiannya
dapat dilakukan oleh forum penyelesaian sengketa antar masyarakat hukum adat dan atau
melibatkan para ahli mengenai hukum-hukum adat kedua belah pihak.
(3)    Penyelesaian sengketa hak ulayat masyarakat hukum adat dan atau hak perorangan warga
masyarakat hukum adat dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan
(lembaga arbitrase, negosiasi maupun mediasi) berdasarkan pilihan secara sukarela para
pihak yang bersengketa.

 
 
HAK GARAP ATAU HAK MENGELOLAH

Hak garap atau hak mengelolah merupakan hal yang di miliki oleh sesorang yang diberi wewenang untuk memanfaatkan atau mengelolah suatu area untuk dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya dari pemilik hak leluhur yang merupakan pemilik Hak Ulayat dari suatu area atau kawasan.
Untuk semua wilayah di PAPUA prosess ini terjadi dalam kehidupan masyrakat adat yang secara sadar atau tidak sadar hal ini telah berlangsung ratusan tahun sebelumnya oleh para leluhur atau Nenek moyang orang PAPUA.

HAK TINGGAL / MENDIAMI
Hak Tinggal / Mendiami merupakan suatu budaya yang dimiliki suku –suku yang mendiami pulau PAPUA dimana ketika ada suku yang mengalami kesulitan kemudian mendatangai suatu wilayah yang di diami suku berbeda kemudian meminta ijin untuk membuat / membanun rumah di area dimana milik suku yang di datangani maka, suku yang memiliki hak atas tempat tersebut memberikan ijin untuk mendiami namun bukan hak milik atas lahan tersebut.
Hak mendiami juga terjadi bagi suku-suku yang ada di Papua dimana terjadi perkawinan antara suku dimana, Hak Sulung selalu di berikan kepada anak laki-laki (Pria) hal ini terjadi ketika sorang anak perempuan membawa suaminya untuk tinggal di wilayahnya sehingga diberikanya hak untuk laki-laki yang menikah dengan wanita dan keturunanya tersebut hanya memiliki hak mendiami bukan sebagai Hak Waris atas tanah atau wilayah tersebut.

HAK HASIL PERAMPASAN ATAU PERANG

Hak hasil perampasan atau perang antara suku merupakan  suatu, cara pada zaman itu untuk menguasai suatu daerah dimana untuk merebut dan menguasai daerah tersebut terjadi perang anatar suku untuk saling merebut dan mempertahankan wilayahnya.
Polah ini terjadi hampir secara meyeluru di wilayah pantai selatan PAPUA untuk masyrakat di Pantai selatan Papua di kenal dengan perang Hongi “nama hongi ini diambil dari kapal-kapal belanda (VOC) yang masuk ke area pantai selatan Papua “ karena suku-suku yang mendiami pantai selatan memilik alat trasportasi Perahu / kapal layar yang di gunakan untuk perang.

HAK LELUHUR

Hak leluhur adalah hak yang di miliki oleh masyrakat adat atau suku yang di miliki secara turun temurun sejak suku leluhur berada di lokasi tersebut awal di mana manusia hadir di bumi dan lebih dominan di miliki oleh anak laki-laki namun akan di miliki oleh anak perempuan ketika marga dari suku tersebut tidak memiliki anak laki-laki hal ini umumnya terjadi disemua wilayah di papua.
Hak leluhur adalah hak yang dimiliki oleh satu suku dari zaman prasejarah yang membuktikan suatu suku mendiami daerah tersebut dengan tanda-tanda  yang sudah ada ratusan tahun di wilayah tersebut (tempat keramat)


The coconut principles “Prinsip Sederhana Menciptakan Solusi di Kantor Kita”



The coconut principles 
“Prinsip Sederhana Menciptakan Solusi di Kantor Kita”


Ingin cari solusi…..?

Waduh, banjir datang lagi……!

Seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir kembali menerjang Jakarta awal 2013 lalu. Saya sering bertanya-tanya, kenapa sih hingga sekarang belum juga ada solusi tuntas agar ibukota kita terhindar dari banjir? Padahal kita punya banyak ahli tata kota. Juga para ahli di bidang lainnya. Tapi kok hingga sekarang banjir terus saja melanda bahkan jadi langganan? Saking rutinnya, sampai sebagian dari kita sudah pasrah dan bahkan menganggap bahwa banjir itu sudah menjadi hal biasa. Saya dan banyak teman lainnya sepakat bahwa seharusnya pemerintah DKI Jakarta bisa mencari cara yang lebih baik agar banjir tidak selalu berulang.Pasti ada cara yang lebih baik untuk mengatasinya!Namun mengapa solusi belum juga ditemukan?
Kok pemerintah mau-maunya terperangkap dalam masalah yang sama, berulang-ulang, tanpa jalan keluar? Apa pemerintah tak bisa mencari solusi? Sebelum tenggelam lebih jauh dalam rasa frustrasi itu, seorang teman bertanya (lebih tepatnya menyindir):
“Di kantor, bukankah kita juga sering tak berdaya menghadapi masalahmasalah yang itu-itu juga? Sebelum menyalahkan pemerintah, coba kita lihat diri kita. Kita juga sering tak bisamencari solusi, kan?
Rasanya seperti tertohok. Tapi teman saya benar. Memikirkan solusi bagi masalah-masalah besar seperti banjir tentu sah-sah saja. Namun, alangkah baiknya jika kita mulai memikirikan solusi dari tempat kerja kita sendiri dulu. Jadi, mulailah dengan memikirkan solusi bagi masalah yang ada tepat di depan mata kita. Dulu, ketika saya menjabat sebagai seorang product manager, perusahaan saya kadang kalah start dalam meluncurkan produk baru. Setiap kali ini terjadi, saya stress. Tapi lamalama saya mulai terbiasa. Akhirnya saya menganggap keterlambatan adalah hal yang normal. Saya pun menyerah dan alhasil menjadi product manager yang medioker Akibatnya, kita pun merasa frustasi dan sudah tidak lagi mau berusaha untuk mencari solusi apalagi memikirkan terobosan baru bagi produk yang tim saya kerjakan. Banyak teman-teman yang mengalami hal serupa: terjebak dalam masalah yang sama dan merasa tidak bisa menciptakan solusi brilian. Kami bukan orang bodoh, malah banyak yang lulusan sarjana. Namun nyatanya kami tidak bisa menghasilkan solusi atau kontribusi yangsignifikan bagi perusahaan.Saya yakin masalah ini kerap kali kita alami. Orang pintar banyak, namun kenapa tidak semua bisa menciptakan solusi?

 
“The problem is not there are problems. The Problem is expecting otherwise and thinking that having problems is a problem”
- Theodore Rubin-


1.   Berdamai Dengan Masalah

“It ain’t about how hard you hit, it’sabout how hard you can get hit…andkeep moving forward”
- Rocky Balboa –

Masalah ada di mana-mana. Terutama di tempat kerja kita.

Saat saya menjadi karyawan, sebagian besar masalah yang saya hadapi sebenarnya adalah masalah yang berulang. Isu yang sama yang kembali muncul karena sebelumnya tidak berhasil diselesaikan secara tuntas. Masalah bisa muncul dalam berbagai bentuk: complain dari pelanggan, keterlambatan menyelesaikan proyek, budget overrun atau target penjualan yang tidak tercapai. Banyak rekan saya juga mengalami hal yang sama. Lambat laun kami menjadi orang-orang yang selalu menghindar dari masalah. Bekerja seadanya saja…Kemudian saya mulai memperhatikan keadaan di sekeliling. Apakah semua orang seperti kami,stress tapi kinerja biasa-biasa saja?

Ternyata TIDAK. Saya melihat model yang berbeda: ada orang-orang sukses yang tampak menikmati pekerjaannya. Mereka bekerja keras, tapi sama sekali tidak (tampak) stres.

Kelompok tersebut menghadapi masalah seperti layaknya kita menghadapi sarapan pagi. Bagi mereka, masalah dianggap hal yang normal, sesuatu yang menjadi bagian dari kesempatan yang ada di depan mata. Dan… mereka benar-benar mencari solusi bagi masalah yang dihadapi. Yang mengagetkan, ternyata orang sukses juga sering gagal. Namun mereka tidak malu dengan kegagalan dan selalu bangkit untuk belajar mencari cara yang lebih baik. Mereka tidak menganggap masalah sebagai momok yang harus dihindari atau ditutupi. Karena menganggap masalah adalah hal yang normal, mereka selalu siap menghadapinya dan tidak pernah menyerah jika satu atau dua cara belum berhasil.

“Gagal atau Berhasil, Semua Tergantung Kita Sendiri”

Ini adalah kisah tentang Radit, seorang manajer muda di sebuah perusahaan terkemuka.

Dalam satu kesempatan, Radit ditunjuk menjadi project manager untuk sebuah product launching. Sebagai sarjana lulusan Amerika, ia sangat yakin dengan kemampuannya. Segera ia menyiapkan beberapa strategi menggunakan beragam management tool yang canggih, termasuk sebuah grand plan detail berbentuk gantt-chart1. Saking canggih dan rumitnya, banyak anggota project team-nya bingung karena mereka tidak mengerti cara menggunakan analisa-analisa canggih tersebut. Namun karena diburu waktu, Radit tidak sempat memberi penjelasan kepada rekan timnya. Saat ia melakukan presentasi kepada Board of Directors, ia melakukannya dengan lancar dan meyakinkan. Semua pertanyaan tentang market research, product concept hingga financial proforma dapat dijawabnya dengan memuaskan.


Namun semua mendadak berantakan manakala sang CEO mengajukan satu pertanyaan sederhana: “Jadi, kapan tepatnya produk ini dapat diluncurkan?”

Radit berusaha menjawab pertanyaan itu dengan menggunakan berbagai tool yang sudah dia siapkan dalam grafik yang sangat kompleks. Sayangnya, dia kesulitan menjelaskannya secara gamblang. Rekan-rekannya juga tidak dapat membantu karena mereka sendiri tidak terlalu paham. Akhirnya Radit menjawab jujur: ”Saat ini kami belum dapat menentukan hari-H peluncurannya,Pak. It’s complicated.

“It’s complicated… just like your charts!” sergah sang CEO, geram. Sang CEO berdiri. Sambil berjalan ke luar, dia mengambil kertas-kertas presentasi yang terhampar di atas meja, meremasnya dengan kesal dan kemudian dengan marah membuangnya ke keranjang sampah! “Ini semua tidak berguna, kan? Presentasi Anda bikin pusing tapi tidak ada value-nya! Coba atur meeting lagi agar semua siap. And, please…make it simple!”
Bagi orang yang dianggap rising star, kejadian seperti itu tentulah terasa bagai mimpi buruk! Tidak pernah terbayangkan dia akan langsung dihantam secara blak-blakan oleh seorang CEO.Bagi Radit, hari ini karirnya hampir tamat.

Jika saya mengalami hal itu, mungkin saya akan menyalahkan orang lain. Entah itu CEO yang tidak mau mengerti ataupun teman-teman yang tidak mendukung. Untungnya, Radit mengambil sikap berbeda.

Hampir tamat bukan berarti tamat! Belajar dari kesalahannya, Radit melakukan introspeksi diri dan meminta saran dari Pak Iwan, seorang manajer senior, yang ia anggap sebagai role model.


Pak Iwan memberikan beberapa tips ini kepadanya:

1. Berdamai dengan masalah.
Secara bergurau Pak Iwan mengatakan: “Masalah bagi seorang manajer itu seperti mencangkul sawah bagi para petani. Memang berat, tapi normal saja untuk kita temui setiap hari.”

2. Sederhanakan semuanya.
Dalam kata-kata Pak Iwan, saran ini berbunyi: “Sampaikan analisa kita secara ringkas dan jelas. Kalau ada analisa yang canggih-canggih, tempatkan di appendix saja dulu, kecuali memang ada yang bertanya secara mendetil.”

3.Kerjasama.
“Radit, kita harus selalu bekerjasama dengan tim. Ibaratnya main bola, tidak ada gunanya jadi penyerang lari sendirian jika kiper dan bek di belakang tidak kita ajak main bareng.” Radit mengikuti semua saran itu dan berhasil menyelesaikan proyeknya dengan gemilang. Produk itu akhirnya diluncurkan tepat waktu dan ia mendapatkan kesuksesan. Sejak saat itu Radit belajar bahwa kemampuan yang hebat dan kemauan yang penuh semangat saja tidak cukup untuk menjadi seorang pembawa solusi. Jika dengan itu semua kita masih belum juga berhasil, hal yang terpenting adalah untuk segera bangkit dan belajar dari kegagalan itu.

“Masalah adalah Tantangan dan Kesempatan”

Orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang bisa melihat masalah sebagai tantangan untuk dipecahkan.

Mereka tidak lari dari masalah, justru meningkatkan adrenalinnya dan merasa tertantang untuk mencari solusinya. Individu sukses tidak melihat masalah sebagai musuh yang harus ditakuti. Mereka tidak pernah berhenti belajar untuk mencari jalan keluar.

Bukan hanya itu, banyak individu sukses justru menjadikan masalah pelik sebagai sebuah bisnis yang memberi kontribusi besar bagi lingkungannya.

Pada akhir tahun 1960-an, Mutiara Djokosoetono menghadapi masalah yang cukup pelik sebagai seorang ibu rumah tangga. Suaminya baru saja meninggal dan meninggalkan anak-anak yang masih kuliah. Warisan yang ditinggalkan hanyalah sebuah rumah dan dua buah mobil dinas bekas sebagai imbalan atas pengabdian almarhum suaminya. Bu Djoko, demikian panggilan beliau, harus memutar otak untuk menghidupi keluarganya. Sambil mencoba banyak hal, Bu Djoko melihat peluang dari masalah transportasi di Jakarta pada waktu itu; belum ada transportasi umum yang bisa diandalkan dan layak dipercaya. Maka kemudian, dengan semangat “pasti bisa!” dia mengajak anak-anaknya untuk memulai bisnis taksi.

Idenya sungguh sederhana: menyediakan taksi yang mengutamakan pelayanan yang sangat baik dengan pengemudi yang jujur, sopan dan berpenampilan rapi. Faktor kejujuran dan kesopanan menjadi hal yang diutamakan. Bukan kemewahan mobil. Walaupun tidak mewah, kebersihan mobil tetap harus dijaga sebaik mungkin untuk memastikan kenyamanan penumpang. Konsep yang sederhana ini terbukti menjadi awal dari kesuksesan besar yang diraih Blue Bird Group hingga saat ini
2. Bu Djoko adalah seorang perancang solusi yang sangat patut kita jadikan inspirasi. Beliau menciptakan solusi buat masyarakat dari sebuah masalah yang ia hadapi di rumah. Nah, bagaimana dengan kita, orang kebanyakan?

Kenapa banyak yang gagal mencari solusi secara tuntas…….? Bersambung.....!!

Entri yang Diunggulkan

Antropologi dan Kekerasan Kolonial di Tanah Papua

Doc T anah Papua (meliputi Provinsi Papua dan Papua Barat) telah digambarkan sebagai “sebuah surga di bumi bagi penelitian antro...